Penyimpangan LGBT!

Well, LGBT is one of the controversial issues nowadays. So I made a term paper about it, and here it is:

(be free to copy it but please write my link)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1     Latar Belakang

          Pada dasarnya, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Lelaki dengan perempuan, dan begitu pula sebaliknya. Namun sekarang ini, banyak sekali ditemukan penyimpangan pada kodrat manusia, salah satunya adalah rasa suka atau cinta pada sesama jenis atau biasa dikenal dengan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender)

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan atau rasa suka dan cinta seorang individu kepada individu lainnya yang berjenis kelamin sama. Adapun sebutan lesbian dipakai untuk wanita yang menyukai atau mencintai sesama wanita, dan ada pula sebutan gay untuk pria yang menyukai atau mencintai sesama pria.

Homoseksual kini sudah semakin meluas, bahkan di beberapa negara sudah dilegalkan pernikahan sesama jenis. Di Indonesia sendiri, negara islam terbesar, homoseksual yang masih menjadi kaum minoritas sudah mulai melewati zona amannya. Dan anehnya lagi, hampir tidak ada organisasi atau tokoh umat yang menanggapinya dengan serius.

Dibalik itu semua, bagaimana bisa manusia yang kodratnya adalah heteroseksual menjadi ada yang homoseksual atau biseksual (ketertarikan pada sesama dan juga berbeda jenis kelamin)? Apa penyebab terjadinya dan menyebarnya ‘virus’ homoseksual ini? Ada penelitian yang mengatakan bahwa pada awalnya homoseksual ini seperti layaknya vampire, dapat menyebar dari individu ke individu lainnya dengan cepat. Karena sudah melakukan hubungan seks sesama jenis, korban atau pelaku,akan terus mencari mangsa lainnya dengan sendirinya atau tanpa sadar. Dengan begitu, semakin luas penyebaran homoseksual. Ditambah zaman yang sudah modern, banyak sekali komunitas homoseksual di sosial media seperti facebook, twitter, dan bahkan ada aplikasi khusus homoseksual.

Dan karena itu pula, kami disini mengambil tema makalah “Upaya Mengatasi Penyimpangan Homoseksual” dengan tujuan agar penulis dan pembaca semakin tahu apa itu, bahaya, dan bagaimana cara mengatasi penyimpangan dari homoseksualitas.

 

1.2     Rumusan Masalah

  1. Apa itu penyimpangan seksual?
  2. Apa itu homoseksual?
  3. Apa saja faktor – faktor penyebab penyimpangan homoseksual?
  4. Bagaimana gejala orang yang terkena penyimpangan homoseksual?
  5. Bagaimana contoh dan ciri-ciri penyimpangan homoseksual?
  6. Bagaimana cara mengatasai orang yang terkena penyimpangan homoseksual?

1.3     Tujuan Pembelajaran

  1. Mengetahui pengertian dari penyimpangan homoseksual
  2. Mengetahui bagaimana mencegah terkena penyimpangan homoseksual
  3. Mengetahui bagaimana mengatasi penyimpangan homoseksual
  4. Menambah wawasan tentang penyimpangan seksual khususnya pada homoseksual


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1     Pengertian Penyimpangan Homoseksualitas

2.1.1    Pengertian Penyimpangan

              Penyimpangan Menurut Beberapa Sosiolog

  1. James Vander Zander

Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas – batas toleransi oleh sejumlah besar orang.

  1. Robert M. Z. Lawang

Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

  1. Bruce J. Cohen

Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.

  1. Paul B. Horton

Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

 

Dari definisi-definisi di atas, pengertian perilaku menyimpang dapat diartikan sebagai setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat. Perilaku-perilaku seperti ini terjadi karena seseorang mengabaikan norma atau tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat sehingga sering dikaitkan dengan istilah-istilah negatif.

Penyimpangan adalah perilaku yang melanggar standar perilaku atau harapan dari sebuah kempok atau masyarakat. Tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial. Penyimpangan melibatkan pelanggaran norma kelompok yang mungkin atau tidak mungkin diformalkan menjadi hukum.

                 

                  Penyimpangan dari Sudut Pandang Psikologi

Teori ini berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku menyimpang karena perilaku menyimpang sering kali dianggap sebagai suatu gejala penyakit mental. Perilaku menyimpang juga sering kali dikaitkan dengan penyakit mental, namum demikian teori psikologis tidak dapat memberikan banyak bantuan untuk menjelaskan penyebab perilaku menyimpang seseorang.

 

Ilmuwan yang terkenal di bidang ini adalah Sigmund Freud. Dia membagi diri manusia menjadi tiga bagian penting sebagai berikut:

  • Id, yaitu bagian diri yang bersifat tidak sadar, naluriah, dan impulsif (mudah terpengaruh oleh gerak hati).
  • Ego, yaitu bagian diri yang bersifat sadar dan rasional (penjaga pintu kepribadian).
  • Superego, yaitu bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai kultural dan berfungsi sebagai suara hati.

Menurut Freud, perilaku menyimpang terjadi apabila id yang berlebihan (tidak terkontrol) muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang sama ego yang seharusnya dominan tidak berhasil memberikan perimbangan.

 

2.1.2    Pengertian Penyimpangan Seksual

              Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang-orang tersebut adalah objek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan. Psikologi berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku penyimpangan.

Penyimpangan seksual adalah segala bentuk penyimpangan seksual, baik arah, minat, maupun orientasi seksual. Penyimpangan adalah gangguan atau kelainan. Sedangkan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya juga bisa berupa orang lain, diri sendiri, maupun objek dalam khayalan.

Penyimpangan seksual merupakan salah satu bentuk perilaku yang menyimpang karena melanggar norma-norma yang berlaku. Penyimpangan seksual dapat juga diartikan sebagai bentuk perbuatan yang mengabaikan nilai dan norma. Yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari aturan-aturan hukum.

Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkannya. Akan tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain, dampaknya cukup serius, seperti perasaan bersalah, depresi, marah dan sebagainya (Sarwono, 2006).

 

2.1.3    Pengertian Homoseksual

Kata homoseksual adalah hasil penggabungan bahasa Yunani dan Latin dengan elemen pertama berasal dari bahasa Yunani ὁμός homos, ‘sama’ (tidak terkait dengan kata Latin homo, ‘manusia’, seperti dalam Homo sapiens), sehingga dapat juga berarti tindakan seksual dan kasih sayang antara individu berjenis kelamin sama, termasuk lesbianisme.  Gay umumnya mengacu pada homoseksualitas laki-laki, tetapi dapat digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua orang LGBT. Dalam konteks seksualitas, lesbian, hanya merujuk pada homoseksualitas perempuan. Kata “lesbian” berasal dari nama pulau Yunani Lesbos, di mana penyair Sapfo banyak sekali menulis tentang hubungan emosionalnya dengan wanita muda.

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu kepada “pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis” terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, “Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu.”

Istilah umum dalam homoseksualitas yang sering digunakan adalah lesbian untuk perempuan pecinta sesama jenis dan gay untuk pria pecinta sesama jenis, meskipun gay dapat merujuk pada laki-laki atau perempuan. Bagi para peneliti, jumlah individu yang diidentifikasikan sebagai gay atau lesbian — dan perbandingan individu yang memiliki pengalaman seksual sesama jenis — sulit diperkirakan atas berbagai alasan.  Dalam modernitas Barat, menurut berbagai penelitian, 2% sampai 13% dari populasi manusia adalah homoseksual atau pernah melakukan hubungan sesama jenis dalam hidupnya. Sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim melaporkan memiliki perasaan homoseksual, meskipun relatif sedikit peserta dalam penelitian ini menyatakan diri mereka sebagai homoseksual.

 

2.2     Gejala dan Faktor dari Penyimpangan Homoseksualitas

     2.2.1    Gejala Penyimpangan Homoseksualitas

      Gejala Umum

      Kebanyakan pria yang menghadapi perasaaan homoseksual yang tidak diinginkan merasa terlalu familiar dengan gejala-gejala masalah homoseksualitas mereka. Sangat mudah untuk melihat gejala ini, dan sangat sulit untuk melihat jauh di bawah gejala itu untuk menemukan masalah yang mendasari. Beberapa dari gejala yang paling menyakitkan dan mengganggu adalah berikut ini:

      Nafsu

      Bagi para gay, mengidolakan pria sangat mudah berubah menjadi erotisisasi. Tidak mampu merasa “cukup laki-laki” di dalam diri, mereka menginginkan pria lain untuk “melengkapi” mereka dari luar. Memandangi atau menyentuh badan pria lain membuat mereka benar-benar “merasakan” maskulinitas dalam suatu cara yang tidak pernah dapat dirasakannya dari diri sendiri. Tapi menuruti nafsu melalui pornografi, fantasi, atau voyeurism hanya akan meningkatkannya. Lebih jauh lagi mendewakan pria yang dinginkan dan mengisolasi diri dari mereka, memperlebar jurang yang tumbuh antara diri sendiri dan “pria sejati” yang membuat mereka tampak seperti “lawan jenis.” Nafsu juga membuka pintu bagi mereka kearah kecanduan sex.

      Ketergantungan Seksual

      Kepuasan seksual dapat sangat memabukkan bagi pria. Segera ketika sebagian dari mereka mulai menggunakan nafsu atau pornografi untuk membius luka emosional, mereka berada di jalur cepat ke ketergantungan seks – mungkin satu dari ketergantungan yang pria sangat mudah terjatuh ke dalamnya dan yang paling sulit untuk lepas darinya. Mereka dari para gay yang menjadi kecanduan akan seks dan pornografi menemukan bahwa, untuk dapat lepas dari kecanduan homoseksual, mereka seringkali harus menjalani paling tidak dua “program recovery” secara bersamaan – program “detox” untuk menarik mereka dari kebiasaan seks dan program pengakuan maskulinitas dan penyembuhan dari dalam untuk menyembuhkan luka emosional.

      Obsesi

      Bahkan mereka yang dapat menghindari memperturutkan perasaan homoseksual dengan pria lain atau keinginan yang mengarah ke ketergantungan, seringkali menemukan dirinya menjadi terobsesi dengan tubuh pria dan seksualitasnya. Mereka menemukan diri mereka memandangi pria lain terus menerus dan membandingkan diri mereka dengan para pria lain itu. Sebagaimana tradisi gay yang terobsesi dengan fisik, mereka juga menjadi merasa mudah terobsesi dengan kualitas-kualitas ideal.

      Rasa Bersalah

      Nafsu dan obsesi mereka mengarahkan banyak dari mereka menjadi merasa bersalah dan malu yang dalam, yang menarik mereka menjadi lebih down. Mereka tidak ingin menjadi gay. Mereka tidak ingin seseorang tahu perasaan mereka. Beberapa dari mereka tenggelam dalam rasa bersalah, bahkan merencanakan bunuh diri. Yang lain memutuskan bahwa rasa bersalah adalah masalahnya dan mencoba mengabaikan nalurinya, membuang keyakinan agamanya, memutuskan hubungan keluarga, memberikan izin kepada diri sendiri untuk memperturutkan nafsunya, mencari “Mr. Right” dan merangkul “gay pride.”

      Apakah itu berhasil? Tampaknya, untuk sementara. Tapi mereka yang mencobanya mendapati bahwa membungkam nuraninya tampaknya mengarahkan ke sisi gelap yang lebih dan lebih dalam dari “kehidupan gay”, dimana mereka menginginkan lebih dan pengalaman seks yang lebih liar untuk mendapatkan kepuasan yang sama. Itu menghancurkan kerinduan spiritual mereka akan Tuhan dan akan kebaikan. Mereka yang mengambil jalan ini pada suatu saat jatuh ke dasar, dan akhirnya memohon pertolongan.

      Konflik Internal

      Kebanyakan, masalah ini dan gejalanya menimbulkan konflik yang sangat ekstrim yang kadang terasa akan merobek-robek diri mereka. Dari dalam diri mereka mengharapkan pemulihan emosional dan rasa keutuhan. Jiwa mereka sendiri mengharapkan suatu kekuatan dan tujuan yang lebih besar. Sosial mereka mengharapkan kesatuan dengan pria heteroseksual dan penerimaan dalam dunia maskulin. Tetapi, didorong oleh nafsu mereka, Seksual mereka mengancam untuk menguasai bagian mereka yang lain. Seksual mereka membohongi diri sendiri bahwa mereka dapat memuaskan seluruh hasrat mereka dan mendapatkan kebahagiaan dan pemulihan dengan melakukan hubungan seks dengan pria lain. Pada akhirnya, salah satu harus menang. Mereka tidak dapat hidup dalam kondisi peperangan di dalam diri mereka selamanya.

 

     2.2.2    Faktor Penyebab Homoseksualitas

      Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab homoseksual tersebut, di antaranya:

      Faktor Keluarga

      Didikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya memiliki peranan yang penting bagi para anak untuk lebih cenderung menjadi seorang anggota LGBT daripada hidup normal layaknya orang yang lainnya.

      Ketika seorang anak mendapatkan perlakuan yang kasar atau perlakuan yang tidak baik, maka pada akhirnya kondisi itu bisa menimbulkan kerenggangan hubungan keluarga serta timbulnya rasa benci si anak pada orang tuanya. Sebagai contoh adalah ketika seorang anak perempuan mendapatkan perlakuan yang kasar atau tindak kekerasan lainnya dari ayah atau saudara laki-lakinya yang lain, maka akibat dari trauma tersebut nantinya anak perempuan tersebut bisa saja memiliki sifat atau sikap benci terhadap semua laki-laki.

      Akibat sikap orang tua yang terlalu mengidam-idamkan untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan, namun kenyataan yang terjadi justru malah sebaliknya. Kondisi seperti ini bisa membuat anak akan cenderung bersikap seperti apa yang diidamkan oleh orang tuanya.

      Orang tua yang terlalu mengekang anak juga bisa malah menjerumuskan anak pada pilihan hidup yang salah.

      Kurangnya didikan perihal agama dan masalah seksual dari orang tua tua kepada anak-anaknya. Orang tua sering beranggapan bahwa membicarakan masalah yang menyangkut seksual dengan anak-anak mereka adalah suatu hal yang tabu, padahal hal itu justru bisa mendidik anak agar bisa mengetahui perihal seks yang benar.

      Faktor Lingkungan dan Pergaulan

      Lingkungan serta kebiasaan seseorang dalam bergaul disinyalir telah menjadi faktor penyebab yang paling dominan terhadap keputusan seseorang untuk menjadi bagian dari komunitas LGBT. Beberapa poin terkait dengan faktor ini adalah:

      Seorang anak yang dalam lingkungan keluarganya kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, serta pendidikan baik masalah agama, seksual, maupun pendidikan lainnya sejak dini bisa terjerumus dalam pergaulan yang tidak semestinya. Di saat anak tersebut mulai asik dalam pergaulannya, maka ia akan beranggapan bahwa teman yang berada di dekatnya bisa lebih mengerti, menyayangi, serta memberikan perhatian yang lebih padanya. Dan tanpa ia sadari, teman tersebut justru membawanya ke dalam kehidupan yang tidak benar, seperti narkoba, miras, perilaku seks bebas, serta perilaku seks yang menyimpang.

      Masuknya budaya-budaya yang berasal dari luar negeri mau tidak mau telah dapat mengubah pola pikir sebagian besar masyarakat kita dan pada akhirnya terjadilah pergeseran norma-norma susila yang dianut oleh sebagian masyarakat. sebagai contoh adalah perilaku seks yang menyimpang seperti seks bebas maupun seks dengan sesama jenis atau yang lebih dikenal dengan istilah LGBT.

      Faktor Genetik

      Dari beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu faktor pendorong terjadinya homoseksual, lesbian, atau perilaku seks yang menyimpang lainnya bisa berasal dari dalam tubuh si pelaku yang sifatnya bisa menurun dari anggota keluarga terdahulu. ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui terkait masalah ini, seperti:

      Dalam dunia kesehatan, pada umumnya  seorang pria normal memiliki kromosom XY dalam tubuhnya, sedangkan wanita yang normal kromosomnya adalah XX. Akan tetapi dalam beberapa kasus ditemukan bahwa seorang pria bisa saja memiliki jenis kromosom XXY, ini artinya bahwa laki-laki tersebut memiliki kelebihan satu kromosom. Akibatnya, lelaki tersebut bisa memiliki berperilaku yang agak mirip dengan perilaku perempuan.

      Keberadaan hormon testosteron dalam tubuh manusia memiliki andil yang besar terhadap perilaku LGBT. Seseorang yang memiliki kadar hormon testosteron yang rendah dalam tubuhnya, maka bisa mengakibatkan antara lain berpengaruh terhadap perubahan perilakunya, seperti perilaku laki-laki menjadi mirip dengan perilaku perempuan.

      Faktor Akhlak dan Moral

      Faktor moral dan akhlak yang dimiliki seseorang juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku LGBT yang dianggap menyimpang. Ada beberapa hal yang dapat berpengaruh pada perubahan akhlak dan moral yang dimiliki manusia yang pada akhgirnya akan menjerumuskan manusia tersebut kepada perilaku yang menyimpang seperti LGBT, yaitu:

      Iman yang lemah dan rapuh. Ketika seseorang memiliki tingkat keimanan yang lemah dan rapuh, besar kemungkinan kondisi tersebut akan membuatnya lemah dalam hal mengendalikan hawa nafsu. Kita tahu bahwa iman adalah benteng yang paling efektif dalam diri seseorang untuk menghindari terjadinya perilaku seksual yang menyimpang. Jadi dengan lemahnya iman, maka kekuatan seseorang untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya akan semakin kecil, dan itu nantinya bisa menjerumuskan orang itu pada perilaku yang menyimpang, salah satunya dalam hal seks.

      Semakin banyaknya rangsangan seksual. Banyak contoh yang bisa kita ambil sebagai pemicu rangsangan seksual seseorang. Misalnya semakin maraknya VCD porno, majalah porno, atau video-video lain yang bisa kita akses melalui internet.

      Faktor Pendidikan dan Pengetahuan Tentang Agama

      Faktor internal lainnya yang menjadi penyebab kemunculan perilaku seks menyimpang seperti kemunculan LGBT adalah pengetahuan serta pemahaman seseorang tentang agama yang masih sangat minim. Di atas dikatakan bahwa agama atau keimanan merupakan benteng yang paling efektif dalam mengendalikan hawa nafsu serta dapat mendidik kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Untuk itulah, sangat perlu ditanamkan pengetahuan serta pemahaman agama terhadap anak-anak sejak usia dini untuk membentuk akal, akhlak, serta kepribadian mereka.

 

2.3     Ciri-Ciri Homoseksualitas

Homoseksualitas dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu:

Gay

Gay atau “Homo” adalah istilah untuk  yang memiliki kecenderungan seksual kepada sesama pria atau disebut juga pria yang mencintai pria baik secara fisik, seksual, emosional ataupun secara spiritual. Mereka juga rata-rata agak memedulikan penampilan, dan sangat memperhatikan apa-apa saja yang terjadi pada pasangannya. Biasanya mereka melakukan hubungan sesama jenis melalui seks oral atau seks anal. Hubungan melalui anal seks disebut juga sodomi.

Lesbian

Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual. Istilah ini dapat digunakan sebagai kata benda jika merujuk pada perempuan yang menyukai sesama jenis, atau sebagai kata sifat apabila bermakna ciri objek atau aktivitas yang terkait dengan hubungan sesama jenis antar perempuan.

 

Selain itu menurut Coleman, dkk (1980) dalam Supraptiknya (1990) menggolongkan homoseksualitas ke dalam beberapa jenis yakni:

  1. Homoseksual tulen yaitu gambaran streotiptik popular tentang laki-laki yang keperempuan-perempuanan atau sebaliknya perempuan yang kelelaki-lakian.
  2. Homoseksual malu-malu yaitu kaum laki-laki yang suka mendatangi WC-WC umum atau tempat-tempat mandi uap terdorong oleh hasrat homoseksual namun tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualitas.
  3. Homoseksual tersembunyi yaitu kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dengan menyembunyikan homoseksualitas mereka. Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh sahabat-sahabat karib, kekasih mereka, atau orang lain tertentu yang jumlahnya sangat terbatas.
  4. Homoseksual situasional yaitu Terdapat aneka jenis situasi yang dapat mendorong orang mempraktikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam, misalnya penjara dan medan perang. Akibatnya, biasanya mereka kembali mempraktikkan heteroseksualitas sesudah keluar dari situasi tersebut
  5. Biseksual yaitu orang yang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksualitas sekaligus.
  6. Homoseksual mapan yaitu sebagian besar kaum homoseksual menerima homoseksualitas mereka, memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertangggung jawab dan mengikatkan diri dengan komunitas homoseksual setempat. Secara keseluruhan, kaum homoseksual tidak menunjukkan gejala gangguan kepribadian yang lebih di bandingkan kaum heteroseksual. Banyak kaum homoseksual menjalin hubngan intim yang stabil dengan seorang pasangan, khususnya dikalangan kaum lesbian. Ada kecenderungan bahwa kaum lesbian lebih mengutamakan hubungan mereka, bukan pada aspek-aspek seksualnya, sedangkan kaum homoseksual lelaki cenderung mengutamakan aspek-aspek seksual dalam hubungan mereka

Ciri – Ciri gay:

Tatapan

Seorang pria akan menatap pria lain lebih lama dari pria biasa. Biasanya lebih dari 3 detik, dan itu dilakukan berulang-ulang. Tentunya hal ini akan dilakukan terhadap pria yang memang disukainya. Bahkan tatapan ini akan diakhiri dengan senyuman. Bagi sebagian gay mengaku, tatapan mata seorang gay terhadap pria itu sangat dalam dan terasa “menusuk”.

Wangi

Parfum lebih mencolok daripada wanita. Dan parfum yang digunakan biasanya branded.

Cara berpakaian

Lebih dandy, modis, matching dan update. Motif yang dipakai biasanya garis garis lurus dan warnanya tidak terlalu eye-catching. Namun beberapa ada juga yang suka tampil dengan warna-warna mencolok dan ngejreng. Bahkan untuk kaos, lebih disukai yang ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh lebih jelas. Termasuk kemeja juga dipilih ukuran yang lebih ngepas biar kelihatan bentuk tubuhnya, apalagi jika didapatkan dari hasil fitnes.

Tata rambut yang lebih klimis dan trendy.

Selain penampilan, baju, dan wajah. Tak kalah pentingnya adalah tatanan rambutnya, biasanya pria gay lebih klimis dibanding pria heteroseksual. Umumnya mereka suka memakai produk rambut jenis gel yang membuat lebih wet look dan terlihat fresh.

Cara bicara yang lebih sopan.

Umumnya tata bahasa yang dipakai lebih ditata. Bahkan pada kebanyakan gay, cara mereka bicara lebih kental huruf ‘s’ nya, dan parahnya lagi kebanyakan suaranya cempreng. Hal ini akan sangat nampak pada gay yang tingkat femininnya lebih tinggi.

Gesture dan sikap. Pria gay , umumnya lebih menjaga sikap seperti cara berdiri, cara duduk hingga cara berjalan. Ketika duduk, dapat dengan mudah dikenali bagaimana pria gay menaruh tangan dan memposisikan atau menyilangkan kaki dengan anggun.

Pria gay lebih berani dalam menunjukan sikap dan ketertarikan.

Jika dia merasa tertarik dengan anda, maka dia takkan ragu untuk mendekat menghampiri anda dan mengajak kenalan.

Ciri – Ciri Lesbi:

Selera fashion

Lesbian biasanya memiliki selera fashion yang berbeda dengan wanita normal. Bisa dilihat dari gaya rambut yang biasanya populer di kalangan lesbian adalah gaya undercut, rambut pendek gaya militer yang diberi banyak gel (80% dari mereka yang melakukan ini adalah lesbian), atau rambut pendek dengan poni shaggy yang meniru artis tertentu. Menurut penelitian yang melihat sejarah lesbian dari dahulu kala, mereka biasanya bergaya tomboy dan suka berpakaian seperti laki-laki.

 

Gerakgerik

Biasanya mereka suka melebarkan kaki saat duduk, mereka berjalan seperti laki-laki, dan saat berjalan bahu mereka membungkuk seolah berusaha menyembunyikan dada, langkah kakinya cepat dan setengah memantul. Senyumnya genit dan agak tertahan, suka melakukan kontak mata yang lama, sambil memiringkan kepala. Beberapa yang bisa dilihat dari lesbian adalah saat berbicara sering menjilat bibir berlebihan, menyentuh tangan dan duduk terlalu dekat dengan lawan bicara, sering juga menyentuh hidung.

Jari kuku yang pendek

Katanya hal ini cukup jelas dikalangan lesbian, bahwa mereka selalu memangkas jari kuku dengan pendek dan rapi supaya tidak menyakiti pasangan mereka.

Gaya hidup

Beberapa lesbian punya karakter polos dan ramah, tapi, kebanyakan meraka mudah bergaul. Biasanya mereka lebih suka hang out berkelompok atau berpasangan. Mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan lesbian atau penyuka sesama jenis.

Pembicaraan

Mereka akan senang membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan lesbian atau penyuka sesama jenis. Cara bicaranya akan cenderung pro persamaan gender.

 

 

2.4     Pencegahan dan Pengobatan Penyimpangan Homoseksualitas

    2.4.1    Usaha Pencegahan Penyimpangan Homoseksualitas

               Sikap dan Pengertian Orang Tua

              Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bisa secara optimal diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka. Orangb tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.

Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini dan kebiasaan ini bisa jadi akan menetap. Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana, dan terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dan fenomena sexual secunder lainnya.

Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi, dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.

Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan.

Pendidikan Seks

              Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan informatif.

Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya. Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.

    2.4.2    Pengobatan Akibat Penyimpangan Homoseksualitas

           Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bisa berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.

Farmakoterapi:

              Pengobatan dengan estrogen (eastration)

              Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah. Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.

Pengobatan dengan neuroleptik

  1. Phenothizine

Memperkecil dorongan seksual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral.

  1. Fluphenazine enanthate

Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25 mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan.

Pengobatan dengan transquilizer

              Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik.

Psikoterapi

              Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi.

Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi. Pad kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education. Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita.

Hypnoterapi

              Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.

Genital Mutilation (Sunnat)

              Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara medis. Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan mutilasi genital dengan model yang beraneka macam.

 

 

Menikah

              Bagi remaja/adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah dianjurkan untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah terjadinya kebiasaan masturbasi.


 

BAB III

PENUTUPAN

 

3.1   KESIMPULAN

        Pada dasarnya, manusia diciptakan berpasang-pasangan; laki-laki dan perempuan. Namun sekarang ini, banyak sekali ditemukan penyimpangan pada kodrat manusia. Homoseksualitas adalah salah satu contoh dari penyimpangan seksual.

Penyimpangan adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam sistem sosial. Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Penyimpangan seksual dapat juga diartikan sebagai bentuk perbuatan yang mengabaikan nilai dan norma. Yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari aturan-aturan hukum.

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis, seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Ketertarikan sesama gender antara pria dengan pria biasa disebut gay, sedangkan wanita dengan wanita disebut lesbian.

Homoseksualitas kini semakin meluas, dibeberapa negara ada yang sudah melazimkan perilaku homoseksualitas ini. Perilaku ini disebabkan oleh beberapa faktor; keluarga, lingkungan dan pergaulan, genetik, akhlak dan moral, dan kurangnya pengetahuan tentang agama.

 

 

3.2   SARAN

Sebagaimana telah kita ketahui bahaya akan penyimpangan homoseksualitas, penulis ingin memberikan saran, diantaranya adalah:

Pertama kita harus bersyukur dengan apa yang diberi Tuhan pada saat ini, dengan seperti itu kita akan lebih menerima diri kita sendiri, jika kita seorang laki-laki maka sudah kodratnya memiliki ketertarikan dengan perempuan, begitu pula sebaliknya.

Dari beberapa faktor penyebab homoseksual yang sudah diketahui, kita dapat mencegah diri kita agar tidak terbawa perilaku menyimpang itu, seperti kita harus mendalami pengetahuan agama, sikap dan pengertian orang tua juga penting sebagai pencegahan, ada juga pendidikan seks, pendidikan seks sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi dengan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan mengusai bidangnya.

Adapun pengobatan untuk seseorang yang sudah mengalami homoseksual, seperti farmakoterapi, psikoterapi, hypnoterapi, genital mutilation (sunnat), dan menikah bagi seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam menikah dan itu juga bisa mencegah perilaku penyimpangan ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s